--> Skip to main content

Akademisi Pelancong, Sebuah Cara Berbahagia dalam Belajar

Saya kembali merasakan pemandangan Bantul yang selembut pagi usai kepindahan saya dari Semarang. Saya mendapati kehidupan yang terang pada sekelompok pengayuh pit, hijau sawah dan pepohonan, dan tatapan mesra para pekerja di jalan-jalan menyambut hari Minggu — saat revolusi meliburkan diri dan kapitalisme merayakan diri. Pagi itu saya melakukan perjalanan menuju Pelatihan Bakti Lingkungan (PBL) oleh Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD, baca Kemped). Dalam perjalanan terkadang saya merasakan apa-apa yang pernah saya ketahui dan rasakan: sepeda mini, langit Jogja yang cerah, kemauan yang realistis, sifat keras kepala, perasaan luka dan bahagia, kemiskinan, diskusi semalam penuh, aksi di jalan, dan kawan-kawan organisasi. Mustahil untuk tidak berterimakasih pada mereka.

PBL 2021 kali ini terasa berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Terlebih improvisasi pemilihan tempat yang lebih segar di Taman Ngancar. Di tempat dan pendapa itu, saya bisa melihat Kali Progo mengalir dengan damainya. Saya juga seperti diserang perasaan nostalgis, salah satu anak Kemped menyetel lagu berjudul Kekasih Malamku dari Suite In The Moon. Band ini salah satu personilnya adalah seorang tetua Kemped bernama Bung Suhung. Menurut kawan saya, Ajidev Muzakov lewat komentar di channel Youtube Taufiq SN, lagu tersebut legendaris. Begini sepetik liriknya: “Kalau fajar tiba, dan engkau pun pergi, kuingin ciptakan satu perpisahan yang indah. Yang selalu ingatkan, hatimu, hatiku, akan satu pertemuan nanti.” Aih, sendu-merdu sekali, ha-ha. Suasana Bantul jadi kian kalis saja, dengan mata sejauh melihat dipenuhi pepohonan hijau, disambut bunga-bunga kertas berwarna merah, dan tentu yang lebih penting dibanding semuanya adalah kawan-kawan yang masih bersetia di garis perjuangan.

Salah satu kader militan yang dimiliki Kemped adalah Bung Broto. Tingginya mungkin 170 cm ke atas, berkulit coklat, berahang tegas, dan penampilannya selalu sederhana. Pas SMA dia pernah dijuluki Profesor karena pintar, jadi anak yang paling dikenal guru karena sering main ke kantor dan main catur bareng guru. Pas kuliah dia mengambil jurusan Filsafat dengan jumlah semester yang purna, tapi juga dengan kesibukan yang padat: jadi loper koran, jadi PKL, jadi pemulung, dan banyak pekerjaan sektor informal lain. Dia semacam sumur yang ilmunya selalu ditimba oleh orang-orang di sekitarnya. Dia juga tak pernah pelit berbagi ilmu. Salah satu bentuk militansinya di waktu Covid-19 ini, dia rela menyediakan waktunya datang jauh-jauh dari Cilacap ke Jogja untuk mengisi materi Sejarah Gerakan. Pagi itu saya dan Bung Broto berdiskusi terkait materi yang akan saya presentasikan berjudul: “Revolusi Pendidikan (Revpen)”. Main course yang selalu diberikan tiap kali PBL.

Sejujurnya saya ragu untuk mengisi materi tersebut, karena bukanlah bidang yang begitu saya geluti, tentu masih ada yang lebih veteran prihal menggagas sebuah revolusi pendidikan. Saya tak tahu pertimbangan apa yang membuat panitia memilih saya, tebakan saya mungkin karena dulu saya pernah menjadi staf Divisi Pendidikan di Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Yogyakarta. Sebelum mengisi materi tersebut, saya pun berdiskusi dengan Bung Broto, poin penting apa yang harus saya tekankan untuk materi Revpen ini? Dan dia pun memberi penjelasan yang bisa saya tulis begini:

Hakikat penting dari pendidikan adalah pembebasan. Pembebasan dari ketidaktahuan, kebodohan, dan ketertindasan. Biar kita tak gampang dibodohi, dikecu, dan ditindas oleh sistem yang menjajah kita. Terlebih kapitalisme dengan segenap pencurian nilai lebih. Di mana hari ini pencurian nilai itu berlangsung secara masif dengan adanya teknologi dan gadget.

Bung Broto membahas pula pendidikan dari masa ke masa. Dari masa kolonial semenjak politik etis dilakukan khususnya di bidang edukasi; visi Soekarno dengan tiga idenya: berdikari ekonomi, berdaulat politik, dan berkepribadian yang berbudaya. Hingga zaman Nadiem Makarim seperti sekarang ini dengan kebijakan Merdeka Belajarnya. Baginya, kebijakan ‘Merdeka Belajar’ ini cukup berani dan paradoks.

Berani dalam hal, Nadiem setidaknya telah berhasil membuktikan diri dengan menghidupkan aset yang mati, dalam hal ini motor. Motor dulu secara pribadi hanya difungsikan untuk pergi-pergi saja, untuk kebutuhan privat, tapi motor sekarang menjadi aset untuk penghidupan ekonomi dengan adanya aplikasi Gojek. Masalah laten “pengangguran” pun setidaknya bisa dientas digit angkanya dengan gagasan ini. Jika melihat aset-aset pribadi yang lain pula misal handphone atau lain, bisakah aset mati bisa menjadi aset hidup untuk menjawab problem-problem ekonomi, sosial, politik hari ini? Meski paradoks lagi dengan akumulasi kapital dan segenap penindasan tak kenal waktu pula di aplikasi, yang dialami oleh para driver. Paradoks lain diucapkan oleh Bung Yusron, salah seorang kawan yang mendedikasikan separuh lebih dari hidupnya untuk perubahan, dia mengkritisi diksi “merdeka belajar”, mengapa untuk “merdeka” saja yang sebenarnya sudah menjadi hakikat, mesti diprogramkan, disistematisasikan, dan dibirokrasikan?

Materi Revpen pun dimulai sekitar pukul delapan pagi. Dan beginilah kira-kira gagasan yang saya sampaikan dalam materi Revpen tersebut:

Mengingat pendidikan, saya teringat dengan salah satu novel karya penulis Swiss bernama Robert Walser dengan bukunya Jakob von Gunten. Novel ini bercerita tentang seorang pembelajar bengal bernama Jakob yang bersekolah di sekolah khusus laki-laki bernama Institut Benjamenta. Secara plot sebenarnya novel ini biasa saja, tapi secara tema dan pendalaman karakter, novel ini bereksplorasi banyak. Novel ini bisa mewakili imajinasi saya terkait bagaimana sistem pendidikan yang bagus.

Di Institut Benjamenta siswa hanya belajar sedikit tapi secara mendalam dan konsisten. Pengajarannya dilakukan dengan penuh kesabaran. Tokoh-tokohnya seperti Jakob, Krauss, dan teman-temannya mengajari saya bagaimana menjadi manusia dalam melayani sesama. Dengan niat, komitmen, dan perilaku yang suci, bersih, dan tak ada kata bosan hidup pada salah satu tokohnya. Krauss misalnya begitu menikmati setiap pembelajaran hidup di Institut, even dalam hal menyapu, mencuci piring, dan menjadi ketua kelas. Dia tipe orang yang tak punya tendensi untuk menonjol dan berkuasa.

Di Institut Benjamenta para siswa diajari untuk menggali “ruang dalam” yang ada pada dirinya, karena setiap murid mengalami segala jenis takdirnya sendiri. Sekolah ini juga memberi pelajaran dengan teladan, untuk bersetia pada sikap betah terhadap perjuangan, belajar, dan melakukan apapun yang baik, yang bagus, yang kita bisa untuk orang lain. Siswa juga dilatih untuk berharap, tapi tidak berharap apa-apa. Satu prinsip lagi yang bagi saya sangat penting: “Menjadi kuat berarti tidak menghabiskan waktu untuk berpikir, tetapi dengan cepat dan diam-dalam memasuki apa yang harus dilakukan.”

Gagasan ini mengingatkan saya pada pembukaan manifesto FPPI: “Revolusi adalah praktek.” Praktek adalah melakukan hal-hal yang rill dan tak cuma bicara, berteori, atau sekadar menulis. Di mana tugas pergerakan yang penting adalah “menyusun penjelasan sistematis tentang revolusi sebagai tindakan melangsungkan pembebasan untuk kelas tertindas oleh kelas tertindas dan dalam konteks ketertindasan masing-masing.” Di sinilah kader berperan sebagai pelopor yang menggerakkan turbin sejarah, dengan jalan, “mendidik rakyat dengan pergerakan, mendidik penguasa dengan perlawanan.” Suatu sahutan tegas atas problem-problem dalam pendidikan yang coba untuk diformulasikan.

Pembelajar Pelancong

Dalam kumpulan tulisannya Reflections Exile: And other Literary and Cultural Essays, Edward Said membuat gagasan yang menurut saya menarik terkait kebebasan akademis menggunakan model pelancong. Baik itu sebagai pembelajar atau akademisi. Citra pelancong digambarkan sebagai orang yang tidak bergantung pada kekuasaan. Entah itu penguasaan untuk menguasi materi, buku, orang, jabatan, pangkat, dan lain-lain, tapi pada gerak, pada kemauannya untuk pergi ke dunia yang berbeda, mempelajari idiom yang berbeda, dan memahami berbagai penyamaran, topeng, dan retorika yang ditemui sehari-hari. Sifat natural pelancong juga dia akan melakukan perjalanan di antara diri-diri yang lain, identitas yang lain dari banyaknya petualangan manusia.

Pelancong juga melakukan perjalanan yang entah panjang atau pendek dia memiliki tujuan. Dia akan menyeberang, melintasi wilayah, hingga meninggalkan posisi tetap. Dengan menjadi pelancong maka kepekaan, sensibilitsas, dan perasaan realistis pada medan sesungguhnya akan dialami. Inilah yang menjadi bekal penting dalam pencarian kebanaran. Pelancong juga akan bisa membuat hubungan-hubungan antara dot satu dengan dot lain.

Cara ini tentu berbeda dengan para pengecu kebenaran yang secara sadar atau tidak lebih untuk sekadar mencari keselamatan diri sendiri. Bagi Said, peran pembelajar adalah mengubah sesuatu hal yang bisa menjadi konflik, kontes, dan penonjolan tertentu menjadi suatu interaksi aktif, rekonsiliasi, mutualitas, dan pengakuan. Bagi saya, gagasan Said ini menarik karena dengan menjadi pelancong seorang pembelajar tidak lupa akan asal-usulnya sendiri, dengan budaya dan peradaban sendiri. Dengan melancong seorang pembelajar juga tak terkena infeksi konservatif yang menciptakan benih radikalisme.

Diskusi Revpen membahas juga terkait hal-hal yang menggelisahkan dan menjadi masalah dalam pendidikan hari ini. Ilham, gairah, dorongan, semangat, dan bahan bakar itulah yang kalau bisa disebut dalam satu kata berbunyi: kedongkolan. Dari peserta PBL tersebut, berikut adalah kedongkolan dalam dunia pendidikan yang dialami:

· Dosen sewenang-wenang

· Materi harus dipahami semua padal enggak

· Akses orang gak pinter dibatasi

· Penampilan seolah mempengaruhi kemampuan otak bekerja

· Ruang bertanya dibatasi

· Anak yang pinter jadi anak emas

· Standar pinter cuma akademik

· Dipaksa tahu semua hal

· Pendidikan diperuntukan bagi yang punya previlese

· Semua nilai dipaksa harus tinggi

· Pengelompokan pendidikan

· Kurangnya intelektual

· Pengelompokan kelas

· Susah referensi

· Bosan, malas, capek (Zoom)

· Sulit sinyal

· Kurangnya pengetahuan

· Pendidikan gak efektif, ngalor — ngidul

· Feedback kurang

· Pendidikan makin hari makin mahal

Daftar ini jika diteruskan akan panjang sekali. Pendidikan saat ini dalam suatu gambaran yang besar dikondisikan oleh sistem bernama kapitalisme dan neoliberalisme, yang menjadikan siswa dan pembelajar sebagai dagangan di tengah pasar bebas. Sialnya, jika tak ikut permainan ini siap-siap digilas. Lalu alternatif apa yang bisa kita lakukan? Ini pertanyaan berat. Namun, meski dalam lingkaran atau circle kecil, saya akan selalu mengingat pesan dari antropolog Margaret Mead: “Never doubt that a small group of thoughtful, comitted, citizens can chage the world. Indeed, it is the only thing that ever has.” Jangan pernah ragu bahwa suatu kelompok kecil yang berpikir, berkomitmen, dan berorganisasi akan bisa mengubah dunia. Sungguh bisa, itulah yang kita punya. Jadi bukan soal jumlah kecil atau besar, tapi pikiran, komitmen, dan kebersamaan. Cheers!

Godean, 7 Februari 2021

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.