--> Skip to main content

Dari Rock sampai Dangdut: Catatan Singkat Menjadi Pendengar Musik yang Tidak Serius

Orang bilang menyenangkan mendengar musik hingga tertidur. Baiklah, saya terima pendapat itu. Tetapi, malam ini, saya tak tidur; saya kerja lembur. Tidak buruk. Saya butuh istirahat sebentar. Saya putuskan memutar lagu untuk menemani saya menulis. “Helter Skelter” menjadi lagu pilihan saya dalam playlist.

Sekarang, suara dari kerongkongan uzur Paul McCartney memenuhi ruang kos. Lagu tersebut konon awal mula musik bergenre Heavy Metal. Namun, Paul, selaku personel The Beatles yang masih hidup, menyangkal itu. Ia pernah mengaku kepada NME kalau lagu itu sekadar buat kenceng-kencengan.

Meski begitu, bagi saya, versi lawas tampaknya masih kurang berisik untuk mengimbangi riuh isi kepala. Yaudah, saya pindah ke Helter Skelter abad 21 yang dibawakan Rob Zombie dan Marilyn Manson walau sebenarnya saya jadi rada merasa ngeri.

Berbicara soal Marilyn Manson tak enak rasanya bila melupakan album Antichrist Superstar. Marilyn kontroversial alam video lagu yang sejudul dengan album. Ia merobek-robek Bible dari atas mimbar konser. Beberapa sobekan ia masukkan ke mulutnya dan sisanya ia lempar ke kerumunan penonton. Banyak orang mengutuki: satanik, amoral. Namun, tak sedikit pula yang menganggap itu cuma bentuk kritik terhadap agama, tanpa terkecuali.

Musik rok tak jarang memang menampilkan adegan-adegan vulgar yang horor. Pada 20 Januari 1982, misal, saat dunia musik cadas digegerkan dengan aksi Ozzy Osbourne yang menggigit kepala kelelawar hinggi putus saat manggung di Des Moines, Iowa.

Selain itu, banyak adegan angker lain seperti eksorsis yang ditemui dalam musik “bawah tanah”. Bahkan beberapa grup musik Black/Death Metal yang pernah saya saksikan kadang menempatkan diri sebagai ahli ilmu gaib yang menyanyikan mantra di atas panggung.

Saya tak tahu dan tak peduli apa mereka merasa jadi okultis betulan atau tidak. Yang jelas, tak sedikit orang menganggap kelompok seperti itu adalah kafir tulen. Namun, kafir atau bukan, musik, terlepas dari genrenya, tetaplah medium universal yang dapat dimanfaatkan dan digunakan oleh siapa pun. Ia akan jadi respon bagi ruang di sekelilingnya, baik itu berbentuk afirmasi maupun kritik.

Saya jadi ingat, dalam buku “Lanskap, Mosaik Musik dalam Masyarakat”, musik dan tema ruang dibahas dalam kaitan yang erat. Bunga rampai yang ditelurkan program Forum Peneliti yang digagas Laras (Studies of Music in Society) ini menjadi bingkai berkelindannya musik dengan masyakat. Dalam buku itu pula pergulatan status quo dalam ruang imajiner bernama skena underground dibahas.

Musik dapat sangat tak karuan dalam berkompromi

Pada medio 2010, konser bertajuk “Titik Nol: Approach Deen Avoid Sins” (ADAS) digelar di lapangan Bulungan, Jakarta Selatan. Acara itu menjadi pertanda perubahan ekstrem di skena underground Indoneisa. Betapa tidak, di antara euforia metalhead beratribut serbahitam itu, tak jarang pekikan takbir terdengar sesekali pada jeda musik.

Selain itu, mereka menggunakan jari telunjuk atau salam satu jari (salam tauhid) sebagai pengganti gaya metal konvensional. Mereka percaya salam tiga atau dua jari merupakan konspirasi El-Diablo atau tanduk setan.

Ferdhi F. Putra, dalam esainya pada buku Lanskap membedah fenomena unik ini. Ia mengupas skena underground yang identik dengan perlawanan terhadap kemapanan bersenyawa dengan wacana agama yang konservatif.

Alih-alih tendensi yang dianggap satanik itu, mereka menggunakan musik metal sebagai medium dakwah Islami. Meski bagi Ferdhi, terdapat kontradiksi yang tak terhindarkan antara identitas metal dan Islam.

Menurut Ferdhi, hal tersebut tidak lepas dari jatuhnya rezim Orde Baru. Pada era reformasi, pintu demokrasi perlahan terbuka sehingga punk dan metal kian digandrungi kawula muda. Begitu pula gerakan politik Islam yang bangkit dari mati surinya setelah lama dikerdilkan.

Selain itu, masuknya wacana purifikasi Islam global ditengarai punya andil besar “menghijrahkan” musisi underground ini. Salah satunya Ombat, vokalis band Tengkorak, yang menjadi pentolan ADAS dan kelompok Salam Satu Jari di skena underground. Tentu, pergerakan yang diusung Ombat ini memunculkan beragam tanggapan.

Singkatnya begini: globalisasi menciptakan mimesis budaya yang menghasilkan oplosan unik sebagai alternatif dari pakem yang ada. Lalu, menjadi oposan bagi skena itu sendiri seperti terjadi pada metal bertauhid dan punk muslim. Mengutip Ferdhi, “Ketika punk dan metal berekspansi ke negara yang memiliki akar budaya yang berbeda, otomatis terjadi kompromi nilai-nilai yang tak terhindarkan.” (Lanskap, hlm. 67).

Sebagai respons, pihak kontra menggelar konser tandingan bertajuk “Metal Untuk Semua: Konser Pro-Pluralisme dan Anti-Terorisme (MUS)”. Dalam acara tersebut, Doni “Iblis” Hendaru, vokalis band Funeral Inception, bahkan dengan sarkas berseru di panggung, “Tadi sempat hujan deras, tapi sekarang sudah berhenti. Ini adalah bukti bahwa Tuhan memberkati musik setan.”

Saya rasa kedua pihak sama-sama berkeras otot leher memperebutkan ruang imajiner yang dianggap krusial tersebut. Meski pada situasi tertentu mereka tidak berupaya serius menyentuh ranah substansial seperti menegaskan kembali makna genre yang diusung. Saya tak peduli Anda berada di pihak mana. Sampai Mephistopheles jadi mualaf, dunia musik toh akan tetap begitu—penuh perdebatan.

Namun, jika menilik sejarah, skena “bawah tanah” lahir dari rahim budaya yang menegasikan norma-norma mapan. Misalnya, punk yang lahir dari estetika anarkisme dan gerakan antinegara dan metal dengan kritik atas kekangan moral keagamaan.

Dangdut dan Makanan

Bila di hadapan Rhoma dangdut itu suci dan mulia, pendorong gerobak gethuk menjadikannya tak lebih sekadar urusan perut.

Pergulatan wacana dalam genre musik akan melahirkan suatu yang baru. Ini berlaku pula dalam genre lain, misalnya dangdut. Pada mulanya, dangdut tak lebih dari sekadar hiburan. Lalu, genre yang urban ini disiasati menjadi sebentuk budaya Islam populer oleh Rhoma Irama. Sampai, 13 Oktober 1973, Oma mendeklarasikan Soneta Group sebagai “The Voice of Muslim”.

Fenomena dalam musik dangdut memang unik. Tak melulu persoalan serius mengenai makna dari lagu. Dalam perjalanan musik dangdut, bahkan ada pertukaran simbolik antara dangdut dengan jenis makanan. Sebut saja gethuk, penganan khas yang terbuat dari ubi.

Dalam esai Michael HB Raditya yang bertajuk “Gak Dangdut Gak Gethuk”, dikisahkan fenomena musikal unik berupa praktik berjualan gethuk dengan iringan nyaring dari toa yang mengalunkan dangdut. Di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dangdut kebanggan Rhoma dipakai sebaga isyarat kedatangan gerobak penjual gethuk.

Saya jadi berpikir begini. Barangkali bagi Rhoma Irama, musik, khususnya dangdut, adalah sarana dakwah sekaligus perihal eksistensial semacam penyaluran minat dan bakat. Namun, bagi penjual gethuk, dangdut bukan sekadar pengejewantahan emosi diri, tapi sebuah penanda keberadaan dan bentuk strategi marketing. Bila di hadapan Rhoma dangdut itu suci dan mulia, pendorong gerobak gethuk menjadikannya tak lebih sekadar urusan perut.

Senasib dengan itu, di lain tempat, karya adiluhung Ludwig Beethoven “Fur Elise” dipakai sebagai penanda kedatangan penjual roti burger keliling kampung. Padahal, karya Beethoven yang lain, misalnya “Simfoni No 9”, menggema di Jerman kala bangsa itu memperingati 10 tahun runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1999. Tapi, lupakan saja, mungkin kini waktunya untuk mengabaikan Rhoma dan Beethoven untuk mulai fokus pada gethuk dan burger.

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.