--> Skip to main content

Halah, Bung! Semua adalah Omong Kosong

Oleh: Yael Stefany

Tulisan ini berangkat dari sebuah pengamatan dengan sedikit polesan teknik deskriptif. Tentunya tak luput juga dari keresahan, pikiran liar dan beberapa obrolan kolega yang pernah berjumpa, menyerupai bisikan setan tepatnya. Dan mudah-mudahan dapat menggapai alam bawah sadar, bahwa logika muncul ketika kita mampu masuk pada tahap bahwa, semua nilai serta struktur yang dibuat adalah nol.

Ngeri-ngeri sedap memang, ketika penyadaran sudah sampai ubun-ubun otak. Apalagi ketika taraf pemikiran mampu membuat gerak motorik untuk mengalikan dengan nol semua hal yang berbau tidak logis dan susah diterima akal sehat. Biasanya, banyak terjadi pada mereka yang secara utuh hidup dari, oleh dan untuk perjuangan yang berbau ‘kiri’, ataupun penganut Nietzsche yang taat.

Dunia yang makin tak waras ini memaksa kita untuk bangun dan melihat kenyataan. Bahwa semua yang terjadi adalah panggung sandiwara belaka. Mungkin bisa kita awali dengan kata ‘bayangkan’. Hidup pada lingkungan agamais dan merupakan anak perempuan dari keturunan yang dianggap titisan tuhan di dunia, sangatlah menyebalkan. Perempuan sudah terlampau banyak menerima ‘catatan’ tak masuk akal yang disematkan dalam bungkus nilai. Ditambah lagi dengan tuntutan kitab suci serta polisi moral bahwa orang-orang haruslah seperti ini dan seperti itu.

Ketika kita masuk ke rumah ibadah beralaskan sandal jepit atau memakai celana bolong-bolong, kita akan mendapatkan tatapan sinis penuh kejijikan serta cibiran sebagai hamba penuh dosa. Hal itu sering terjadi, apalagi jika perempuan pelakunya, orang-orang akan berbondong-bondong menjadi juru selamat. Ingat sekali lagi kawan-kawan. Perempuan.

Selain itu, terasa getir ketika tempat duduk di rumah ibadah harus diurutkan dengan jumlah uang yang mampu diberikan atas nama mendukung pembangunan. Atau kalau tidak, diurutkan berdasarkan seberapa penting peran dalam ‘struktur’ yang dibuat. Sangat ironi memang, namun seringkali diamini keras-keras.

Ohya satu lagi, belum lagi ketika orang-orang di atas altar yang juga turut diseleksi, bukan berdasarkan kemampuan maupun minat, melainkan berdasarkan latar belakang keluarga serta kemampuan materil yang dimiliki. Sehingga timbulah diskriminasi bagi mereka yang merasa tak memiliki apa-apa. Sanggat jauh dari kata merangkul dan belajar bersama-sama.

Butuh pertimbangan tujuh kali bahkan lebih, ketika saya menuliskan ini. Namun, saya pikir lebih memusingkan ketika pernyataan pukimak seperti ini dibiarkan terus menerus merongrong kapasitas otak yang tak seberapa ini. Sakitnya lebih dari apapun yang bisa dibayangkan.

Kita sedang berada di dunia macam apa, Entahlah.

Dari Kesemuan dan kefanaan itu, tak luput juga bergelayut di lingkaran-lingkaran penyandang gelar progresif yang kekirian. Alih-alih melakukan penyadaran, menyusun revolusi besar-besaran — mogok kerja, rebut alat produksi dan ambil alih negara, mereka masih saja eksklusif dan menjunjung ideologi yang kaku, meski ternyata bisa saja dinamis.

Ini menjadi pertanyaan penting. Penyadaran seperti apakah yang masih mengasingkan dan menjustifikasi, bahkan tak rendah hati barang duduk sejenak untuk berdialektika? Mari berpikir dan kita renungkan lagi.

Baiklah. Mungkin kita sedikit merujuk pada Paulo Freire yang barangkali bisa menjadi jawaban atas omong kosong ini. Bahwa kita bukan Tuhan, Nabi atau apalah penyebutan yang suci itu, yang bermisi membawa kabar keselamatan dan mengarahkan manusia penuh dosa untuk kembali ke jalan yang benar, paling benar.

Akan tetapi, bagaimana kita yang (katanya) terpelajar harus mampu merendahkan hati dan berdialog dan yang terpenting, mau mendengar satu sama lain tentang konsep hidup sejahtera menurut diri sendiri dan orang-orang yang ingin ‘dibebaskan’. Setelah itu, barulah bersama-sama mencari benang merah agar disimpul menjadi satu.

Alih-alih mewariskan nilai Pramoedya Ananta Toer — adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Akan menjadi sangat kontradiktif ketika tak mampu menyatakan sikap saat kekerasan melanda teman pada lingkaran sendiri. Sekali lagi, menggaungkan nama baik dan ketakutan putusnya regenerasi.

Mungkin kita perlu mematikan konsep yang sudah terstruktur. Sehingga tak lagi muncul wacana yang mengatakan laki-laki mencari perempuan yang bertubuh langsing, mancung dan putih. Begitu juga sebaliknya. Jika konsep salah kaprah itu masih subur, dampaknya akan banyak sekali benih yang tumbuh terhadap rendahnya kepercayaan diri dan penerimaan atas diri sendiri. Sengguh memilukan.

Belum lagi ketika kita dihadapkan tentang kadar kebutuhan dan prinsip kebahagiaan, yang membuat orang-orang berlomba menjadi kaya, agar dipandang dan diterima serta pantas menyandang sebutan orang paling bahagia. Padahal jika kembali ke tanah, emas dan uang tidak juga berarti. Sama sekali.

Ungkapan-ungakapan jebakan semacam itu, sering sekali dijadikan tameng untuk mereka yang mencari jati diri. Seperti membaca adalah melawan. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membaca adalah melihat serta memahami isi apa yang tertulis. Membaca ya membaca. Melawan ya melawan.

Atau ada pula istilah yang mengatakan bahwa berjuang adalah mereka yang turun ke jalan. Sehingga ketika memilih jalan lain seperti menulis, bernyanyi, menari, pentas drama, melukis, melapak, serta berdiskusi bukanlah bagian dari pejuang sejati yang bediri di garis rakyat tertindas.

Terjebak dalam fatamorgana terkadang menjadi lawakan kecil dalam kehidupan. Tanpa disadari banyak sekali hal-hal yang ada di depan mata, namun sangat kasat dan susah dijangkau oleh penglihatan. Begitulah manusia, tak ada yang menjadi benar-benar manusia. Karena sejatinya kita masih belajar menjadi manusia.

Saya teringat pernyataan seorang lelaki yang akhir-akhir ini menjadi rekan diskusi sampai pagi, bahwa perubahan yang selalu diimpikan akan menjadi nyata jika semua orang selesai terhadap nilai-nilai yang tak adil itu. Berhenti untuk stagnan dengan hal omong kosong nun kesemuan yang tak masuk akal. Di titik itulah sebutan-sebutan serta tindakan yang tidak sinkron akan diluruskan.

Menyesuaikan, mengapresiasi dan menjadi cangkir kosong terhadap siapapun menjadi metode yang kemungkinan besar membawa kita dalam kehidupan yang terus menerus haus dan tak cepat puas. Paling tidak, melatih pikiran untuk terus mengucapkan kata ‘kenapa’, pada setiap tindakan dan fakta sosial yang akhir-akhir ini semakin aneh-aneh saja.

Penulis yang senang jika ada yang memanggilnya dengan nama Stef. Penyuka bunga matahari. Sedang proses menjadi sarjana manusia.

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.