--> Skip to main content

Kembali ke Tradisi, Alternatif Baru atau hanya Gimik?

Apa yang kita tahu soal tradisi masyarakat kita? Bagaimana menjelaskan tradisi yang mungkin akrab pada masa kecil kita? Terus untuk apa tradisi itu ada? Demikian pertanyaan- pertanyaan yang beberapa tahun lalu begitu menghantui pikiran saya. Entah dari mana pertanyaan itu tiba-tiba bisa muncul di kepala saya. Yang jelas, pertanyaan tersebut datang saat saya ingin benar-benar meninggalkan jejak kultural pembentuk identitas saya. Bagaimana pun, dalam anggapan saya saat itu, menjadi modern dengan segala hiruk pikuknya adalah segalanya.

Tradisi sendiri yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah suatu cara pandang untuk melihat kebiasaan yang terus diwariskan dari para leluhur kita meliputi banyak aspek. Ia bisa berbentuk macam-macam, mulai monumen hingga nilai-nilai. Sedangkan modern itu sendiri adalah cara pandang yang sesuai dengan tantangan zaman. Tentu definisi ini tidak cukup untuk menjelaskan kompleksitas gagasan dari keduanya. Tapi biarlah, tulisan ini mungkin hanya semacam rekam jejak dari pergulatan yang belum benar-benar usai juga.

Maka izinkan saya untuk memulai catatan sederhana ini. Awalnya saya benar-benar seperti berada dalam persimpangan gagasan antara modern dan tradisi. Di satu sisi dalam bayangan saya menjadi modern dengan segenap lifestyle dan world of view-nya merupakan sesuatu yang saya anggap ideal. Tetapi di sisi lain, ketika saya benar-benar berusaha meninggalkan seluruh perangkat pemahaman tradisi yang membentuk identitas saya selama ini, ada perasaan yang tidak nyaman. Bahkan, setengah diri saya terasa hilang. Kondisi seperti itu, dalam matra tertentu mungkin hanya fase diri untuk menjadi dewasa dengan segala pilihannya. Tetapi merekamnya menjadi suatu perenungan, mungkin adalah sedikit usaha untuk menguraikan bagaimana identitas kita dibentuk dan akan diarahkan kemana ke depannya.

Saya ingin mengawalinya dari suatu usaha untuk kembali melacak jejak gagasan modern yang selama ini secara tidak sadar dibentuk melalui institusi, sebut saja sekolah. Sekolah selama ini menyodorkan gagasan modernitas ke dalam benak kita, sejak belia sampai dewasa. Paulo Freire, filsuf sekaligus praktisi pedagogi kritis, menyebut sekolah sejatinya justru mencerabut anak-anak dari akarnya dan membuatnya terasing. Lingkungan sekolah itu lantas menciptakan habitus—meminjam kata sosiolog PierreBourdieu—yang diarahkan pada pendisiplinan untuk kepentingan industrial.

Begitulah nalar modern bekerja melalui sekolah. Ia merangsek dalam kesadaran saya. Kasarnya, saya bahkan merasa hanya melalui gagasan modernitas manusia akan menemukan kebahagiaan yang menjulang. Kesadaran tersebut juga tak bisa ditolak serta-merta. Ia sudah menjadi sistem yang dipayungi banyak otoritas pengetahuan seperti sekolah, bahkan otoritas negara. Tak ada pilihan lain memang, dengan demikian saya lalu menerimanya hingga masuk perguruan tinggi, yang untungnya masa tersebut ada sedikit celah keterbukaan dan kebebasan cara pandang untuk mengkritisi proses tumbuh kembang belajar saya.

Namun bagaimanapun itu, sekolah dengan grand design-nya sebagai institusi formal, sebagai kaki tangan negara, telah mengaburkan identitas lokal saya yang kadang setelah saya pikir-pikir begitu berwarna. Dalam takaran tertentu, secara gradatif sekolahan telah mengikis gagasan saya sebagai manusia yang lamat-lamat masih terhubung dengan gagasan tradisi lama tersebut.

Tetapi uniknya, ketika sekolah menjadi ruang indoktrinasi atas gagasan moderitas. Di sisi lain, gagasan tradisi ternyata juga tidak benar-benar hilang dari masa pertumbuhan saya. Saat saya berada di luar kelas, dalam ruang kultural saya ternyata juga masih hidup di institusi-institusi yang dianggap “tradisional” seperti langgar, surau, sanggar seni, dan pesantren lengkap dengan berbagai ritus tradisi semacam sedekah bumi, slametan, nyadran, dan lain-lain.  Hal itu juga masih hadir mewarnai masa pertumbuhan saya selama ini.

Seluruh perangkat kultural tersebut secara tidak sadar juga memberi alternatif cara pandang yang tidak bisa saya kesampingkan. Selain itu saya juga diajari nilai-nilai hidup yang lekat kaitannya dengan gagasan tradisi dalam masyarakat saya. Misalnya seperti ngkapan yang sering bapak saya katakan bahwa, “Urip kui sak darmo ngelakoni, dadi uwong kui kudu iso mikul duwer mendem jero.Kalimat itu beserta kata-kata lainnya masih terekam jelas dalam ingatan saya. Belum lagi gagasan tradisi sudah menjadi adat, hukum, dan tata nilai di tengah masyarakat, yang mau tidak mau sebagai makhluk sosial tidak bisa dengan serta merta ditinggalkan.

Jadi dalam persimpangan gagasan seperti itulah saya mulai berpikir ulang. Seperti apa kita seharusnya memposisikan tradisi dalam bingkai modernitas yang tidak bisa kita tolak seperti sekarang ini? Keduanya bagaikan dari gerak hidup yang tentu saling mencari titik temu, dan bisa jadi saling melengkapi, maka meminggirkan salah satu berarti kita telah membohongi diri sendiri.

***

Selang beberapa tahun lalu setelah saya begitu menggusarkan persoalan persimpangan antara tradisi dan moderitas ini. Nampaknya apa yang saya gelisahkan ini seperti mulai berbalik arah. Diskursus tradisi yang dulu tak menarik untuk dilibatkan dalam memandang kenyataan, sekarang dilirik bahkan mendapat panggung untuk dibicarakan di kampus-kampus, kantong-kantong diskusi berlisensi internasional, coffeshop berkelas, galeri papan atas sampai hotel berbintang. Idiom-idiom tradisi, seperti mulat sarira, suluk, nyawiji dan lain-lain menjadi tidak asing lagi digunakan di berbagai acara di kalangan elit intelektual kita.

Entah apa yang terjadi, tetapi nampaknya gagasan kembali ke tradisi memang lagi asyik untuk dibicarakan. Beberapa lingkaran sudah mulai lantang menyuarakan bahwa kembali ke tradisi adalah jawaban dari masa depan. Pernyataan yang dalam taraf tertentu memang terlalu ambisius, saat hampir setengah abad di negeri kita ini diskursus tradisi kita menjadi gagasan pinggiran yang selalu tidak diperhitungkan.

Saya sendiri entah kenapa seperti ada dorongan untuk kembali menyelami tradisi—semoga tidak tenggelam karena terlalu dalam. Saya khawatir apa yang saya lakukan ini hanya pelarian semata, atau bahkan gimik, karena tak mampu mengejar ketertinggalan atas cepatnya perubahan yang terjadi. Saya sendiri tidak ingin ceroboh untuk persoalan yang satu ini. Bagaimana pun saya beranggapan mengelap-elap masa lalu merupakan bukti kegagalan kita beradaptasi dengan perubahan yang terjadi saat ini.

Maka tidak ada pilihan lain: saya kira kita perlu lebih berani untuk berjalan di atas garis tipis yang menengahi tradisi dan moderitas ini. Ini pekerjaan sulit sebab secara teoritik desain dari modernitas hadir untuk mengikis sedikit demi sedikit warisan tradisional. Silang sengkarut kedua hal itu sudah menjadi kenyataan yang terus berjalan, sulit untuk diuraikan. Dari hal itu, membaca ulang tradisi dan modernitas, mestinya menjadi sesuatu yang dapat kita upayakan. Semuanya demi menemukan formulasi agar kedua gagasan tersebut tidak saling bertubrukan bahkan saling mendiskreditkan satu dengan yang lainnya.

Jelasnya tulisan ini ternyata tak cukup merangkum kegelisahan saya yang acapkali sulit buat diuraikan dan boleh jadi merepotkan pembaca. Dari hal itu maafkan saya. Jika sudah terlanjur membaca tulisan ini, mungkin ini hanya pemantik yang belum tahu arahnya akan kemana. Tapi setidaknya ada tuangan kegelisahan. Mungkin kegelisahan kita bisa jadi sama. Kalaupun tidak, biarkan tulisan ini menjadi sampah.

 Pondok Kaliopak, Piyungan, Bantul 26/10/2021

Ilustrasi: Firdan Haslih Kurniawan

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.