--> Skip to main content

Memahami Alasan Peyek Polos Harus Menjadi Nomor Satu

Di masa lalu, dapur menjadi penanda keluarga sedang dalam keadaan baik-baik saja atau tidak. Jika dalam beberapa hari dapur terlihat mengepul, kita boleh tak kuatir. Namun jika sebaliknya, berarti ada suatu hal yang tak beres dalam keluarga tersebut, bisa kehabisan bahan makanan, bisa juga terjadi penikaman yang mengerikan di kamar mandi, atau apapun yang berhubungan dengan hal buruk. Sebab di masa lalu, dapur dan makanan erat hubungannya. Dapur adalah tempat satu-satunya untuk mengolah makanan, belum ada Warteg, belum ada makanan pesan antar.

Karena itulah politisi sering sekali makan bersama, semua persoalan akan cepat selesai dengan makan bersama. Kesepakatan selalu menyertai pada tiap makanan yang mereka kirim, pada tiap makanan yang mereka santap. Dalam bumbu yang meresap pada sela-sela makanan dan kentalnya kuah disitulah kesepakatan dan jutaan rupiah mengalir mengsisi kantong-kantong.

Nah, pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang lebih saya juga akan membahas tentang makanan. Berbeda dengan politisi, makanan bagi saya memiliki arti sederhana, bikin kenyang dan puas melalui cita rasa pada tiap makanan.

Jadi begini teman-teman…

Cerita ini dimulai pada penghujung bulan Ramadhan kemarin — yang juga berarti, semuanya masih dipusingkan oleh pandemi. Jujur, saya sama sekali enggak kepikiran bakal bisa lebaran seperti biasanya. Saya pikir, lebaran kali ini hanya akan bangun, shalat subuh, maaf-maafan sama mama dan kakak, lalu makan telur dadar pake kecap, dan kembali tidur.

Tapi kenyataan berkata lain. Seminggu sebelum lebaran, mama saya masih melakukan hal-hal seperti lebaran sebelumnya, ia tetap menyiapkan segala bahan masak dan keperluan untuk lebaran. Kalau sudah begini, tentu kami sekeluarga akan segera mengerti, mama akan masak berbagai rupa, seperti yang sudah-sudah. Sekalipun satu kakak saya tak bisa pulang lebaran kali ini.

Lebaran makin dekat, mama sibuk mengolah masakan lebaran kesukaan masing-masing dari kami. Mama menanyakan kami ingin dimasakan apa, dengan berat hati — tapi mau juga, saya memesan sayur cabai hijau. Kakak pertama saya memesan kentang balado dan ati ampela, dan keponakan saya memesan rawon buatan neneknya. Belum. Belum selesai. Tentu tetap harus ada opor dan ketupat. Ya, mama membuat masakan sebanyak itu untuk lebaran kali ini, meski sedikit tamu yang berkunjung.

Saya sempat sedikit kesal — padahal saya enggak banyak membantu dan tak direpotkan — saya bilang pada mama, “Mamaku cantik, ngapain sih? Lebaran kali ini kan ngga kayak lebaran sebelumnya.” Lalu dengan cepat mama menjawab, “Hashhhh namanya lebaran ya kayak gini!” Saya yang merasa sudah banyak dosa, tak lagi punya jawaban untuk menanggapi.

Jangan salah, menu yang sudah macam rumah makan itu, belum selesai sampai disitu. Mama saya, enggak lebaran pun, kalau anak atau cucunya ingin peyek, ya akan dibuatkan peyek. Pokoknya, kun fayakun deh. Lebaran kemarin, setidaknya ada enam wadah, tiga wadah untuk peyek dan sisanya untuk kerupuk lainnya.

Sepanjang hidup saya, setidaknya ada tiga isian peyek yang saya tahu; peyek kacang, peyek teri, dan peyek udang. Tapi kadang-kadang mama saya membuat polosan, peyek tanpa isi.

Buat kalian yang belum tahu apa itu peyek. Teman kita, Wikipedia berkata, rempeyek atau peyek adalah sejenis makanan pelengkap dari kelompok gorengan. Secara umum, terbuat dari gorengan tepung beras yang dicampur dengan air hingga membentuk adonan kental, diberi bumbu (bumbu intinya adalah garam dan bawang putih), kemudian diberi bahan pengisi yang khas, biasanya biji kacang tanah atau kedelai. Fungsi rempeyek sama dengan kerupuk yaitu sebagai pelengkap hidangan.

Biasanya, saya makan peyek untuk menemani nasi tumpang atau nasi pecel. Lidah saya betul-betul enggak membayangkan akan makan peyek pada hari lebaran. Peyek teri dan peyek kacang pulak! Selama kurang lebih 20 tahun saya hidup di bumi yang fana ini, menurut saya, peyek dengan isian kacang dan teri adalah yang paling biasa saja, sebut saja peyek Mainstream. Di banyak warung, yang selalu ada adalah kedua jenis peyek itu.

Saya semakin heran, kenapa banyak orang menyukai peyek dengan isian teri apalagi kacang. Kemudian melalui mesin pencarian, saya mencoba mencari tahu jawabannya, tapi juga saya dapatkan jawaban itu. Saya malah menemukan artikel dari https://www.infia.co/ yang membahas filosofi dari peyek. Konon, peyek sudah hadir di Jogja pada abad ke-16, bermula dari perjalanan Ki Ajeng Pamanahan bersama dengan rombongan untuk melakukan Bedhol Desa, perjalanannya itu menempuh jarak cukup jauh, dari wilayah Surakarta menuju Alas Mentaok, lalu di ujung perjalanannya, rombongan dijemput oleh oleh Ki Gede Karanglo. Di rumah Ki Gede Karanglo itulah, mereka disuguhkan menu makanan; nasi putih, sayur pecel, peyek, dan sayur kenikir. Disebutkan pula bahwa peyek dianggap sebagai makanan yang mudah untuk dibuat dan memberikan rasa asin di tengah makanan hambar seperti nasi dan sayur saja. Nah! Jelas bukan? Tak ada penjelasan secara rinci, si peyek ada isinya kacang, udang, teri atau malah memang polos saja? Mari kita sepakati bahwa semula, peyek hadir tanpa neko-neko. Cukup peyek yang memberikan rasa asin pada makanan yang hambar. Kenapa musti ditambah dengan isi ini dan itu? wqwqwqwq~

Peyek polos tentu lebih enak. Simple dan gak neko-neko. Tapi peyek polos biasanya sangat jarang ada di warung makan, kecuali kamu mau mempreteli isian peyek, sehingga jadilah peyek yang polos tanpa isian kacang atau teri ataupun udang. Yang jelas, peyek isian kacang, teri ataupun udang, tidak lebih enak daripada peyek polosan. NO DEBAT!

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.