--> Skip to main content

Membaca Buku, Aktivitas yang Kian Langka

Membaca merupakan bentuk keseriusan dan tanggung jawab seorang pelajar. Membaca menjadi suatu ritus bagi manusia yang dibekali akal. Dengan membaca seseorang menyelami berbagai pengetahuan yang barangkali, baginya adalah suatu hal yang benar-benar belum diketahui.

Tentu kita tidak terkejut lagi, ketika kita sebagai tulang punggung suatu bangsa, justru melakukan sesuatu hal unfaedah yang memang maha asiqueee itu. Sebagai permisalan, perilaku kopi paste ketika hendak membuat makalah tugas kuliah. Meski kita sadar tindakkan itu dilaknat dosen. Namun diam-diam kita menikmatinya, diam-diam kita sudah memencet Ctrl+A, kemudian Ctrl+C dan Ctrl+V dan tanpa menyertakan catatan kaki, diam-diam pula, kita menyodorkan dan mempresentasikan makalah haram itu dengan penuh wibawa dan perasaan tenang.

Perkara membuat makalah, sebagaimana alasan-alasan yang sering kita lontarkan-bukan karena harga foto kopian yang semakin mahal atau waktu yang terlampau sibuk. Namun, kita terlalu menjaga jarak dengan buku, kita terlampau malas dengan kegitan yang membutuhkan sedkiti tenaga ekstra itu.

Kecerdasan Intelektual seseorang sangat dipengaruhi oleh intensitas proses belajar yang telah dilakukan, sedangkan proses belajar berkaitan erat dengan budaya baca akan sebuah literatur. Semakin sering intensitas seseorang membaca maka akan semakin kuat tingkat pengembangan pola pikirnya. Minat baca generasi muda dewasa ini bisa dibilang cukup rendah. Beberapa sekolah baik di tingkat SD/SMP/SMA/SMK terlihat loyo pada tingkat kompetisi akademik yang mereka jalani.

Ada yang tidak beres dengan tata kelola peningkatan minat baca yang terjadi saat ini. Generasi muda belajar hanya karena akan menghadapi ulangan ataupun ujian sekolah. Mereka melakukannya semata-mata untuk memenuhi perintah orangtua untuk belajar dan bukan atas kehendak hati mereka. Setelah ulangan ataupun ujian berakhir mereka berusaha menjauhkan diri dari buku-buku yang ada.

Hal ini di pertegas dengan munculnya data UNESCO, persentase minat baca anak di Indonesia saat ini hanya mencapai 0,01 persen. Artinya dari 10.000 anak yang tinggal di negara ini hanya 1 orang yang memiliki minat untuk membaca. Sebuah ironi ini terjadi ditengah berjubelnya himpitan globalisasi yang kian hari kian mengancam. Apakah penyebab minat baca generasi muda rendah? dan Adakah strategi yang dapat meningkatkan budaya baca?

Antusias generasi muda untuk membaca, berkunjung ke perpustakaan dan ketertarikan membeli buku terlihat masih jauh dari harapan. Di lain itu pemerintah terkesan enggan memberikan ketetapan yang mewajibkan para pelajar untuk membaca sejumlah buku bacaan, justru malah penyitaan dan penyitaan buku yang digencarkan.

Di Thailand semua murid SMA diwajibkan membaca minimal 5 buku, Malaysia dan Singapura minimal membaca 6 buku, di Brunai Darusalam minimal 7 buku, Rusia 12 buku, Kananda 13 buku, Jepang 15 buku, Swiss 15 buku, Jerman 20 buku, Prancis 30 buku, Belanda 30 buku, dan di Amerika Serikat 32 buku.

Namun, bagaimana dengan Indonesia, apakah di dalam Kurikulum 2013 terdapat sistem yang mengharuskan para pelajar membaca sejumlah buku? Jawabannya tidak. Bergulirnya kurikulum terlihat belum menginisiasi para pelajar untuk getol belajar memenuhi tuntutan menyelesaikan sebuah buku bacaan.

Jangan sampai lemahnya minat baca ini dibiarkan begitu saja. Hal yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit untuk dikondisikan. Artinya, lemahnya minat baca ketika dibiarkan tanpa diberikan penanganan akan menjadi sebuah kebiasaan buruk, yang lama kelamaan akan sulit teratasi, begitupun sebaliknya.

Membaca dapat tercipta atas dasar kesadaran dan sistem kesadaran inilah yang selama ini diterapkan dan dipertahankan oleh bangsa ini. Namun apakah semua generasi muda memiliki tingkat kesadaran yang sama akan pentingnya budaya baca? Tentu tidak.

Ada berbagai tipe orang, mulai dari orang yang memiliki kesadaran absolut (tanpa disuruh ia tetap melakukan), orang yang melakaukn dengan sebuah dorongan (motivasi-motivasi) dan terakhir tipe orang yang melakukan kegiatan atas dasar penekanan-penekanan (penekanan sistemik).

Dari ketiga tipe ini, prinsip penekanan sistemik menjadi alternatif pilihan positif dan lebih produktif dalam mengatasi lemahnya minat baca masyarakat. Penekanan dengan memperhatikan pola perkembangan kecerdasan sangat penting dilakukan. Semisal, anak SD diwajibkan merampungkan 10 cerita rakyat dalam satu tahun. Anak SMP di wajibkan meranmpungkan satu buku selama satu semester, SMA diwajibkan merampungkan satu buku pada setiap mata pelajaran dalam dua semester dan seterusnya. Pola inilah yang terbilang sedikit menekan namun berpeluang besar dalam meningkatkan budaya baca kedepannya.

Dan terakhir, tidak adil ketika permasalahan minat baca murni hanya ditujukan atas dasar pola kebiasaan masyarakat yang buruk. Penulis mengira selain faktor manusia, lemahnya minat baca juga terjadi lantaran kurang tersedianya akses literatur buku di masyarakat. Sehingga minat masyarakat khususnya generasi muda akan membaca sangat minim.

Berbicara pentingnya minat baca tentu berbicara pula tentang pentingnya perpustakaan di setiap daerah. Tersedianya akses buku bacaan yang menarik dengan berbagai macam kumpulan literatur menjadi alternatif kedua setelah penekanan sistemik di dalam pendidikan itu di terapkan.

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.