--> Skip to main content

Sebuah Reportase Serius: Semangkuk Soto, Kebahagiaan, dan Lelaki yang Tak Berhenti Mengutuk Pinjol

Lelaki yang mengajakmu makan pagi waktu itu adalah lelaki yang mengingatkanmu bahaya pinjaman online. Dan, lelaki itu adalah Soim (bukan nama sebenarnya). Ia adalah lelaki dewasa menggelikan yang berbicara dengan memanggil namanya sendiri—sesuatu yang hanya pantas dilakukan oleh balita atau paling tidak gadis remaja. Kegelianmu akan memuncak ketika ia mulai bercerita tentang kisah sedih keseharian sehingga kau mendengar namanya ia ucapkan berkali-kali. Benar, ia bukan orang cakep yang cenderung percaya hidup ini adil. Ia adalah lelaki dengan iman longgar dan berwajah mirip tapir.

Karena terlalu akrab dengan kesialan, ia berkeyakinan hari baru mesti dibuka dengan hal istimewa, biasanya dengan sarapan dan membaca koran. Belakangan kau tahu kebiasaan kedua sudah ia tinggalkan setelah melihat kawan seperjuangannya dulu berjabat tangan dengan birokrat di halaman koran paling depan. Kini hal istimewa itu hanya makan soto, lontong, pecel, atau ketiganya sekaligus. Begitulah ia membuka paginya.

Waktu itu berarti pagi terakhir kau berada Jogja. Kota itu benar-benar sudah tak sanggup lagi menampung kebesaran hati banyak orang, tanpa terkecuali dirimu. Di kota yang telah memberimu arti banyak hal, kau kini sendirian dan tak tahu arah—hidup hanya berarti melanjutkan hidup. Impianmu menjadi carik, sudah kau kubur dalam-dalam ketika kau mulai rutin bangun jam empat sore dan begadang semalaman untuk menyelesaikan tugasmu sebagai freelancer.

Tapi impian membangun desa pun kau anggap omong kosong belaka, kau memandang masyarakat desamu tak dapat tertolong lagi, mereka sangat kuno. Karena itu pula kau lebih nyaman di Jogja, dan mulai terbiasa menghabiskan waktumu juga semestermu di warung kopi hingga kau akhirnya sadar tak ada lagi yang tersisa di kota itu. Kota itu benar-benar telah melembagakanmu, kenyamanan di dalamnya sebenarnya mengharuskanmu menahan tiap-tiap penderitaan, dan sialnya kau baru sadar di tahun ketujuh. Sudah, sepertinya tulisan ini terlalu banyak basa-basi. Pokoknya di suasana pagi macam itu lah Soim mengajak sarapan.

Di sebuah kontrakan bertema kemiskinan–tembok dengan cat hijau pucat, tak ada akses ambulan, dan sangat banyak plastik–Soim membuka pembicaraan dengan kalimat, “Jika kau seorang pengangguran, bangun pagi akan membuatmu terlihat tolol.”

“Ayok sarapan, Soim lapar,” lanjutnya menggelikan.

Kau tak menghiraukan karena, habis menonton pembantaian AC Milan oleh Liverpool semalam. Kemudian Soim mengimbuhi dengan kalimat inspiratif, yang ia ucapkan sambil berbisik. Sangat pelan ia berkata,”Sarapan akan membuatmu sedikit terlihat mapan.” Karena kalimat itulah kau ikut sarapan dan harus menampung kisah sedih hariannya.

Terlalu banyak kisah sedih yang Soim ceritakan. Biasanya, orang-orang yang merasa hidupnya payah akan mendatanginya hanya untuk mendapatkan kenyataan hidup yang lebih menyedihkan—sebuah upaya meningkatkan rasa syukur, mungkin. Pagi itu ia bercerita tentang kehidupan di Jogja yang memaksanya beberapa kali berurusan dengan pinjol. Untuk alasan edukasi, nampaknya tak masalah hal ini diceritakan ulang. Begini …

Di sebuah warung soto ayam pinggir rel kereta. Ia mungkin memilih tempat itu karena tukang parkir selalu mendoakan siapa pun yang lewat di depannya. Soto sudah dipesan, dan ia mulai bercerita.

“Semua pembangunan di negeri ini cuma omong kosong, Bung! Jika masih mengandalkan utang dari luar negeri,” Soim membuka obrolan dengan kalimat mengerikan.

“Haa?” ucapmu sambil menerka-nerka apa maksudnya.

“Benar kata orang-orang itu: tak ada makan siang yang gratis!”

Dan ia mulai menjelaskan utang negara yang mengatasnamakan pembangunan atau sebaliknya. Katanya, sejak Orde Baru sampai sekarang negeri kita sudah tergantung dengan utang. Dampaknya kita tak punya orientasi yang jelas tentang pembangunan, kesehatan, pendidikan dan lainnya.

“Jika orientasi saja tak punya, apalagi keberpihakan terhadap mereka yang tergusur dan lapar!” Jawabmu sekenanya dangan penuh semangat, dan berharap ia berhenti ndeleming.

“Benar bung! Meski tanpa bedil sesungguhnya kita masih dijajah!” Soim ucapkan dengan lebih semangat. Setelah ucapan itu kau tak ingat ia mengoceh apalagi, yang pasti saat itu kau merasa jadi maba yang sedang dikhotbahi ngab-ngaban pergerakan. Ia baru berhenti saat pesanan kami datang: sebuah soto dengan guyuran doa-doa tukang parkir.

Dan, malapetaka itu datang setelah soto habis dilahab. “Sebenernya bung, Soim sedang gelisah,” ia membuka. Jika Anda menemukan kalimat pembuka macam itu– “Sebenernya atau jadi gini” Anda harus hati-hati, tutup kuping atau sudahi obrolan. Sebab kata itu biasanya digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah tak tahan ia pendam, tak tahan ia tanggung sendiri–sesuatu yang pelik. Bisa untuk mengungkapkan cinta, pinjam duit, atau hal menyedihkan lainnya, seperti yang Soim ungkapkan setelah ini.

“Soim ‘kan nyoba pinjol, dan sekarang bingung ditagih-tagih terus setiap hari, dan belum ada duit.”

Kau bingung harus menanggapinya bagaimana, yang jelas si bajingan tengik ini salah alamat kalau mencari solusi padamu. Mungkin benar, solidaritas orang kere itu kuat. Soim seolah-olah dapat membaca pikiranmu dan berkata “Sudah dengarkan saja! Soim tahu kamu tak kalah kere.” Saat itu memang kau masih kere, tapi tidak untuk sekarang.

Berdasarkan pengakuan Soim, dalam sehari ia ditagih sebanyak 3-5 kali, pada pagi, siang dan menjelang magrib, semakin lama pembayaran berarti semakin intens penagihan. Biasanya ia ditagih melalui pesan singkat atau telepon. Pernah suatu ketika, ia ditelpon oleh penagih, seorang wanita. Dengan nada judes wanita itu menghujani pertanyaan tentang kapan tagihan akan dibayar, dan Soim memberi jawaban ia akan lunasi nanti setelah ia menerima gaji. Wanita itu mendesak meminta kejelasan hari, tanggal, jam dan metode pembayaran. Karena sebenarnya Soim juga tak tahu kapan ia akan memperoleh duit, ia naik pitam dan membentak wanita itu hingga wanita itu berkata lirih bahwa ia hanya menjalankan tugas dan mohon kerjasamanya. Di ujung telepon Soim mendengar wanita itu menangis. Setelah kejadian itu, ia tak mau lagi mengangkat telepon dari nomor yang tak dikenal, ia tak mau menyakiti lagi. Setelah sedikit mengetahui pola penagihan, Soim mengabaikan penagihan dan memilih langsung membayar di hari ketujuh keterlambatan, entah dengan cara apapun. Katanya, ia tak mau penagih meneror nomor yang ada di kontaknya.

Masih berdasarkan pengakuannya, jika pinjolnya legal, pasien pinjol akan sangat dipermudah dalam hal peminjaman. Hanya perlu membuat akun, foto selfie dengan KTP, mengisi data pribadi, dan rekening bank. Sangat cepat, tak lebih dari 20 menit.  Setelah itu akan ada penawaran berapa yang ingin dipinjam beserta waktu jatuh tempo, kata Soim paling lama 3 minggu dengan bunga dan biaya admin bervariasi tergantung waktu pinjam dan jumlah peminjaman.

Terkait jumlah peminjaman, pasien bisa meminjam Rp300.000 pada pinjaman pertama, setelahnya baru bisa meminjam lebih dari itu, dengan kelipatan Rp300.000, dan duit akan langsung di transfer ke rekening. Saat bertanya berapa besaran yang perlu dikembalikan, mencakup bunga dan biaya admin, ia menyebut angka Rp72.000 untuk pinjaman sebesar Rp300.000 dengan waktu pembayaran 3 Minggu, Rp105.000 untuk pinjaman sebesar Rp600.000 ribu, dan seterusnya. Sungguh fakta yang mencengangkan, mereka mengambil keuntungan dari orang-orang kepepet, rapuh, dan tak berdaya.

Kau tak tahu, ada berapa banyak Soim-Soim lain di luar sana. Mungkin benar kata Soim, negara ini benar-benar membiarkan kemiskinan dibisniskan.

Saat itu karena dorongan gelar sarjana agama yang baru kau peroleh, dengan bangga kau mengingatkannya dengan sebuah pertanyaan: “Bukannya itu termaksud praktik riba? Dan jelas Islam melarang itu,” disusul dengan pelafalan sebuah ayat dalam Alquran. Belum juga ayat selesai kulafalkan tangan Soim sudah menangkap mulutku, menjepitnya dengan jari-jari seperti kepiting.

Hop, stop! Hei bung! kita hidup di zaman yang tak memberikan kita banyak pilihan, itu pilihan terbaik dibanding menjual warisan atau merampok anak SD,” bantahnya sambil melepaskan tangan dari mulutku. “Kau cukup doakan Soim biar cepat keluar dari jurang kenistaan ini,” imbuhnya.

Mungkin Soim bermaksud baik menceritakan hal itu kepadamu, meski sebenarnya juga meremehkanmu dan menganggapmu pria yang gampang kepepet dan terjerumus jerat pinjol. Kepadamu, ia berpesan untuk tidak sekali-kali mencoba Pinjol karena dapat menyebkan kegelisahan dan ketidaktenangan di waktu sarapan. “Pokoknya jangan!” tegasnya.

Larangan Soim membuatmu penasaran, kenapa ia akhirnya memutuskan untuk menjadi pasien Pinjol. Tentu ia tak picek karena mematut-matut layar gawai setiap hari. Sosial media beberapa kali digemparkan oleh duka lara pinjaman online. Setelah bertanya alasannya, kau pikir semua orang bakal menepuk pundak Soim dan berkata, “Sing bakoh!”

Dan beginilah alasannya …

Soim lulus setahun sebelum dirimu. Karena ia lulus melebihi semester yang ia janjikan pada orang tuanya untuk lulus yakni semester sepuluh, ia harus menanggung sisa semesternya sendiri. Dan di tahun itu lah ia mulai aktif berutang, karena jika ia harus bekerja maka kuliahnya tak akan selesai-selesai. Ia mulai berutang dari teman satu ke teman yang lain—tidak untuk bermewah-mewahan, hanya untuk sarapan dan skripsian—sampai pada titik tak ada lagi temannya yang dapat ia utangi lagi. Semua teman sudah ia utangi dan utang lama belumlah terbayar. Bukan Soim tak ada niatan untuk bekerja. Usai lulus ia justru langsung melamar kerja di banyak tempat meski berujung koit, sebab semua lowongan kerja punya persyaratan tolol yakni menerima fresh graduate berpengalaman kerja minimal satu tahun dan omong kosong lainnya, sampai akhirnya keputusasaan membuat ia melihat iklan-iklan pinjaman online sebagai lambaian tangan berikut ungkapan: tenang ada kami! Karena tak ada pilihan lain, ia terpaksa menjadi pasien pinjol. Ia meminjam dan menutup pinjamannya dari Pinjol lain. Begitulah kisah Soim, lelaki yang tak berhenti menghitung utang. Baginya kebahagiaan sangat lah sederhana: melihat salah satu daftar utangnya tercoret, bukti sudah terbayar.

Begitulah pagi itu. Barangkali Soim memulai setiap pagi dengan sarapan untuk bersiap menertawakan segala kemungkinan yang akan ia hadapi. Sebab kata Chekhov: puncak dari tragedi adalah komedi.

Editor: Sidra Muntaha

Ilustrator: Firdan Haslih Kurniawan

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.