--> Skip to main content

Sia-Sia Jadi Pemuda Urban

Kau bekerja di kota, di gedung-gedung besar atau sebuah rumah kontrakan yang disulap jadi kantor start-up. Satu hal yang wajib disebut di awal: kau bangga atas pekerjaan itu.

Sesungguhnya kau selalu malas bangun pagi, tetapi tak punya keberanian yang cukup untuk bolos kerja. Manajermu suka mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang bikin mentalmu kerut serupa spon murahan merk Sunlight. Semasa bocah mungkin ia kerap dikurung di kamar mandi oleh ayahnya yang selalu mencoblos Golkar.

Bagaimanapun, kau hanya pekerja bergaji rendah. Kau hanya pemuda yang dicerabut dari desa lewat sebuah proses bernama kuliah. Sudah tahu begitu, kau menolak pulang ke rumah.

Kawan-kawan sekolahmu yang dulu sama-sama merantau—demi kampus bagus, demi mengubah nasib, demi merasakan “pengalaman tidak-tidak”—sekarang sudah pulang.

Mereka telah menikah dan saban pagi memasang wajah menggelikan di depan anaknya demi membuatnya tertawa, atau paling tidak tengah sibuk mengikuti rapat-rapat GP Ansor sebab begitulah perilaku wajar seorang pemuda di desa NU. Mereka tak lagi menggantungkan harapan pada kepadatan kota, karena bagian-bagian padat kota selalu tersusun dari masyarakat miskin yang sedari dulu hanya diperlukan untuk membantu bagian pemasaran mencapai target miliaran.

Dulu kau menganggap mereka “orang-orang kalah”, yang setelah berpayah menyelesaikan kuliah tak punya apa pun untuk ditawarkan. Mereka pulang kampung dan kini membuka bengkel atau menjual daster 20 ribuan atau menjaga warung kecil ibu atau merawat pohon jambu. Pendeknya, mereka melakukan apa saja selain “bekerja di kantor”.

Kau tak ingin bernasib seperti mereka. Menurutmu itu tragis. Sebuah bentuk ketidakcakapan dalam menghadapi persaingan kota yang buas. Kau tersenyum untuk kemenanganmu; kemenangan untuk tetap jadi pemuda urban. Survival of the fittest, Boy! Oh, tidak tidak. Terma itu lebih cocok disebut “aksi saling menyingkirkan”.

Kemauan bersaing, bukan bekerja sama, yang dianggap sebagai ciri keunggulan manusia urban, telah jadi energi liar yang menggerakkanmu sekaligus merusak jejak keakraban naif masa muda. Kini kau terlalu sibuk bekerja, kerap tak tahu jika satu per satu kawanmu sudah tak lagi di kota. Itu menyedihkan.

***
Tiga tahun berlalu sejak pertama kali bekerja dan kau masih ingin jadi pemuda urban. Di desa, bapakmu punya sawah satu hektare yang bisa ditanami apa saja sebab daerahmu dilimpahi kesuburan dan bapakmu memang seorang tuan tanah. Orang-orang desa mengelilinginya dan mereka tertawa bersama kala panen tiba. Namun, kau masih kekeh jadi pekerja kota bergaji UMR sambil berharap suatu hari dapat kenaikan gaji signifikan.

Kau malas pulang sebab pendidikan hanya mengajarkan cara bertahan hidup di kota, sebab hanya mengajarkan cara bekerja di depan laptop, sehingga kini tanganmu mudah lemas saat memotong bambu atau memanggung beras 25 kilogram. Fungsi tubuhmu menurun, sedangkan fungsi otakmu macet sejak semester 3. Tapi sekali lagi, setidaknya kau tetap jadi pemuda urban.

Kau bekerja hanya untuk bertahan hidup sambil sesekali bersenang-senang. Tujuanmu adalah kesenangan, tetapi itu hanya dapat diraih sesekali, selebihnya hanyalah penderitaan.

Kini rokokmu sudah habis, tadi kau hisap terus tanpa henti. Temanmu bertanya, kenapa kau merokok sedemikian banyak seakan tak pernah usai. Kau menjawab tenang, merokok seperti penderitaan, tak akan pernah usai. Di kota, kau menyelami penderitaan sambil terus menghisap rokok. Alkohol tetap haram bagimu.

Ada banyak cerita soal kegagalan bertahan di kota. Soal gagal mendapat pekerjaan layak, soal diperlakukan semena-mena oleh atasan, soal gaji yang tak pernah dinaikkan. Kau sudah mendengar cerita seperti itu ribuan kali hingga bosan, tetapi masih yakin kalau kau bukan termasuk golongan itu.

Keyakinanmu untuk jadi kaya di kota masih besar, sedangkan penderitaanmu kian bertumpuk, esok mengendap lalu membekas, membuatmu lupa bahwa hidup pernah begitu santai dan bangun siang tiap hari bukanlah persoalan besar.

Kau semakin mekanis. Melakukan pekerjaan berulang tanpa tahu di mana titik finisnya.

Kau masih berharap pekerjaan kian membaik atau ada kenaikan jabatan atau ditarik perusahaan multinasional yang memungkinkanmu menabung banyak-banyak. Dengan itu kau dapat membayangkan masa depan berisi sebuah sore sempurna usai jam pulang kerja. Kau sampai rumah. Istrimu menyambut. Anakmu yang baru berusia tiga tahun berjingkrak kesenangan. Aku dapat promosi. Tahun depan kita bisa pindah rumah ke Kelapa Gading. Kita enggak perlu tinggal di rumah kecil ini lagi, katamu pada mereka. Istrimu senang lalu mencium pipimu bertubi-tubi. Matanya berbinar, menatapmu sekian detik tanpa berkedip untuk menunjukkan bahwa pilihannya menikah denganmu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Ia bangga. Ia tidak menyesal sama sekali. Anakmu yang sedang aktif-aktifnya menarik-narik celanamu, tidak memahami bahwa kedua orang tuanya sedang mengalami momen puitis. Oh, rumah tangga yang indah!

Namun sebaliknya, berdasarkan pendapatan sekarang, kau juga bisa membayangkan bahwa di tahun-tahun itu tubuhmu telah didera asam lambung hebat yang memaksamu berguling dan meronta kesakitan saban dini hari di sebuah kos-kosan pasutri. Obatmu hanya Milanta. Sedangkan BPJS telah dihapus sebab subsidi selalu dipandang berseberangan dengan prinsip efisiensi. Ekonomi harus tumbuh, dan kau masih dibutuhkan, sekadar untuk menunjang target-target miliaran bagian pemasaran.

Tapi tak apa, paling tidak kau tetap jadi pemuda urban.

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.