--> Skip to main content

Tak Ada (Lagi) Puisi Cinta di Jogja

Suatu malam di kedai kopi, seorang sastrawan beken uring-uringan di depan saya. Tiada hentinya ia mencoret-coret kertas. Tanpa henti pula ia menghisap rokok dan menatap sekeliling kedai. “Brengsek ramai sekali tempat ini, saya harus menyepi, puisi harus segera tercipta!” ucapnya dan ia mulai berkemas.

Saat itu saya berpikir, apakah di masa lalu Chairil Anwar juga selalu menghabiskan malam-malamnya seperti ini? Memikirkan puisi dengan begitu rupa? Akankah sastrawan agung peraih penghargaan pose merokok paling ikonik itu, juga merokok tanpa henti, merenung begitu khusyuk dengan sepasang tangan malas memangku kepala, sembari berfikir ia mengetuk batok kepalanya berulang-ulang dengan satu jari. Dan jika puisi tak tercipta malam itu, ia akan berucap: “Saya hanya perlu tidur lebih cepat, masih ada malam selanjutnya”. Mungkin sastrawan selalu begitu.

Sebelum sastrawan beken itu pergi, saya bertanya padanya. Apakah dunia yang kacau ini masih membutuhkan puisi? “Setiap manusia adalah penyair atas nasibnya sendiri!” jawabnya lugas. Kepada saya, ia berpesan: temukanlah momen puitik dalam hidupmu, dan bersyairlah! “Penyair muda abad ini akan segera terlahir,” jawab saya dengan suara lantang. Mendengar jawaban saya ia tertawa dan beranjak pergi.

Pertemuan malam itulah yang membawa saya masuk dalam sebuah komunitas atau paguyuban atau apalah itu. Ia berisi sekumpulan calon penyair muda, berbakat dan cenderung nekat. Untuk poin terakhir, Jogja patut untuk berbangga.

Payuguban itu terhimpun dalam sebuah grup WhatsApp bernama “KATA PENYAIR”. Tak tanggung-tanggung dua penyair senior didapuk sebagai mentor yang tugasnya memberi materi perihal perkakas kepenyairan sekaligus kurator puisi. Tiap hari Minggu, lewat forum “kumpul penyair”, pembekalan dan pemantapan kepenyairan dilakukan. Dan, enam hari sisanya untuk proses penciptaan puisi. Butuh banyak waktu memang untuk menciptakan sebuah mahakarya agung.

Tentu saja saya rutin mengikuti pertemuan-pertemuan penyair itu, mendengarkan dengan seksama, penuh khidmat, dengan satu keyakinan: masa depan sastra di tangan saya.

Jogja adalah kota yang sibuk, dan satu-satunya waktu tenang adalah malam hari. Pada waktu paling tenang itulah saya mengamati tiap puisi yang masuk di “KATA PENYAIR”. Memahami tiap kritik dari tutor pada puisi, tentang pemilihan judul, diksi, majas dan duka-duka yang juga tertuang dalam puisi. Sejujurnya malam-malam seperti itulah yang membuat saya susah tidur, malam ketika mengetahui betapa besar duka lara orang-orang, teman-teman.

Saya tak sanggup membayangkan mereka yang berprofesi sebagai pengingat utang online yang saban hari menagih sekaligus mendengarkan pledoi dari orang-orang rentan, mengetahui masalahnya tetapi tak berdaya karena pekerjaan menuntut untuk tak mau tahu. Mungkin mereka juga susah tidur dan tak enak makan. Tak ada yang suka melihat penderitaan, tak ada pula yang suka menjadi pengangguran. Aih, kehidupan ini.

Selama mengamati puisi-puisi, ada fakta menarik yang saya temukan. Bisa jadi jutaan orang tak menyadari akan hal ini.

Dari sekian banyak calon penyair yang tergabung dalam “KATA PENYAIR”, tak ada satupun yang menulis puisi cinta dalam arti yang sesungguhnya: puisi cinta pada seseorang kekasih. Kebanyakan soal kritik sosial, teologi, kebiadaban kota, dan rumput-rumput hijau di padang sabana. Saya nyaris tak menjumpai kata, “Duhai kekasihku…” atau sejenisnya. Kata-kata yang paling sering keluar adalah kata yang menggambarkan tentang petani tanpa tanah, tentang buruh tanpa kesejahteraan, kelaparan, garong-garong, dan kerinduan pada Tuhan dan ibu. Saya tak paham, kehidupan macam apa yang mereka jalani.

Meski belum satu puisi pun tertulis dari tangan saya, setelah mengetahui fakta bahwa tak ada lagi puisi cinta yang tertulis di Jogja, sebagai calon penyair, saya semacam mempunyai kewajiban untuk menuliskan (lagi) puisi cinta. Saya tak percaya di Jogja orang tak (saling) mencintai.

Saya mulai berusaha menulis puisi cinta. Mulai membeli buku catatan, menjadi lelaki tak banyak kata, menirukan karakter Rangga dalam “AADC”. Kita semua tahu, di mata perempuan sosok Rangga masih menempati urutan pertama orang yang ingin ditemui misalkan perang nuklir benar-benar pecah, hanya sekedar ingin bersandar pada bahunya melihat senyum terakhir, melihatnya menangis dan bibirnya berucap, “Maaf ciumanku terlalu sopan”, sebelum sunyi yang abadi.

Ternyata memang tak mudah, puisi cinta tak kunjung tertulis. Meski saya telah mencari tempat dan waktu yang tepat untuk menulis puisi, di tempat-tempat paling romantis, di waktu paling jujur untuk berterus terang. Tak satu pun kata cinta terpikirkan. Yang ada hanyalah campuran yang pelik antara getun, gregetan, tak tahu mesti berbuat apa dan barangkali yang terpenting, kesiap-sediaan untuk berbuat apa saja. Andai revolusi pecah saat itu juga, tentu salah satu martirnya adalah saya.

Jika Anda suatu hari bertemu dengan orang dengan suasana batin semacam itu; yang menatap sinis segala utopia, yang telah ditinggalkan oleh semua cita-cita, yang tak mungkin bisa diselamatkan lagi, entah di manapun tempatnya, maka Anda perlu waspada. Sebab orang yang tak bisa lagi kehilangan apa-apa, bisa melakukan apa saja. Dunia sastra memang keras.

Sejak saat itu, saya tak sendiri lagi ketika berusaha menulis puisi. Selalu ada teman untuk bertukar pikiran perihal proses penciptaan puisi. Tepatnya, sebelum malam keparat itu. Malam itu adalah malam ketika saya dan teman saya bersiap untuk tidur di sebuah kamar kedap cahaya. Teman saya yang problematik itu mari kita sebut saja Goris.

Saat itu malam menjelang tidur, seperti biasa waktu menjelang tidur adalah waktu paling tepat untuk bersajak. Dengan penuh semangat saya memikirkan kata-kata soal cinta, satu dua jam tak juga muncul kata-kata itu. Ketika kata mulai muncul dan saya mulai menulis, “Kekasihku…” di samping saya, suara Goris terdengar lirih, sambil memegang perutnya ia berucap, “Yaa Tuhaan, aku tau engkaulah yang membuat air laut rasanya asin, engkau pula yang mengganti siang dan malam sehingga kehidupan ini ada. Tapi tak bisakah engkau membuatku sedikit saja lebih kaya? sedikit saja!” Saya tak tahu ia sedang bersyair, berdoa, atau sedang mengancam Tuhan. Yang pasti, tanpa sadar saya mengikuti apa yang Goris lakukan, “Yaa Tuhaan, saya bosen makan tempe!”

Sejak malam keparat itu saya melupakan soal puisi cinta, ia telah mati. Terkubur dalam-dalam oleh modernisme. Jika benar demikian, berarti tak adanya puisi cinta di Jogja juga merupakan produk dari proses kekerasan kolonialisasi secara historis, penghancuran kultural atas sumber pondasi yang bisa dirujuk–yang di masa lalu bisa dengan mudah ditemukan. Hancur pula referensi tradisi dan ditutup oleh modernisme.

Sederhanya begini, dalam menulis sebuah puisi cinta salah satu hal yang kita butuhkan adalah imajinasi. Ia identik dengan pencitraan indra dan pengalaman kita. Lewat pembangunan dan modernisme, kota menumpulkan imajinasi kita, karena kota telah terkonsep sebagai pusat industri. Pun kehidupan di dalamnya: penghuni, tata ruang kota, bangunan dan segala akses di dalamnya, tak ada ruang untuk puisi cinta.

Sama halnya dengan penyair kita terhahulu memperlakukan kesunyian, seperti Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer dalam karya-karyanya. Mereka memperlakukan kesunyian sebagai kesunyian bangsa yang terjajah. Kesunyian yang sifatnya historis, berasal dari pengalaman penghancuran kekayaan bangsa jajahan dan segala macam tatanan hidup yang dibangun secara tidak sadar. penghancuran itu, menghasilan suatu kesunyian yang lain.

Dalam krangka dekolonisasi kesunyian, seharusnya kita tak menerimanya mentah-mentah sebagai krangka motif keindahan yang bersih, melainkan sebagai sesuatu yang muncul karena kandungan historis yang bermasalah.

Kebanyakan penyair liris kita dengan mudah menggunakan kesunyian sebagai usaha mengglorifikasi ‘apa yang indah’. Dan abai dengan kesunyian yang dipaksakan oleh proses sejarah. Kita menjadi sunyi karena tak lagi punya sumber rujukan.

Sekali lagi, Jogja tak memberi ruang untuk puisi cinta.

Saya yakin, sastrawan andalan saya, Zaim Yunus, sudah mengalami dan menyadari hal ini bertahun-tahun silam. Dahulu sebelum ia menjadi petani kaktus, ia sangat hobi membacakan puisi Aan Mansyur, “Melihat Api Bekerja” pada tempat-tempat yang ia singgahi. Benar-benar seperti sedang beragitasi, mengajak siapa pun untuk membakar seisi kota.

Selamat berlebaran, selamat berliburan!

*Pengurus harian paguyuban pemuda positif, anak punk yang gemar mendengarkan lagu Lana Del Rey berulang-ulang.

Rekomendasi Artikel

Aku Romário

Di beberapa kesebelasan, ada kesepakatan yang memperbolehkanku bangun siang. Tapi aku tak pernah mangkir latihan. Biarlah aku luruskan hal ini. […]

13 Aug 2022

No Comments yet!

Your Email address will not be published.